MITRAPOS | BEKASI - Diduga lalai, seorang pasien warga Jatirasa meninggal dunia di rumah sakit swasta di wilayah Jatiasih, Kota Bekasi, setelah diantar keluarga untuk mendapatkan perawatan.
Menurut istri Almarhum, Ibu M, suaminya mengalami sakit perut lalu diare dan muntah di rumah hingga dirujuk ke rumah sakit tersebut untuk mendapatkan penanganan yang lebih optimal.
"Pada jam 22.00, Rabu (15/3/2023), bapak sakit perut di rumah, buang-buang air 6 kali, muntah 6 kali, kita kasih obat, kondisi sudah lemas," ujar Ibu M kepada media, Kamis (30/3/2023) lalu.
Dikatakan, setelah minum obat dan istirahat di kamar, suaminya sempat menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Namun, karena kondisinya semakin memburuk, pihak keluarga memutuskan untuk membawanya ke salah satu rumah sakit di Jatiasih.
"Sebelumnya sempat kita coba infus, saya lihat memang udah lemas, tekstur kulitnya udah kurang bagus. Saya coba infus di beberapa titik tidak dapat, akhirnya kita ajak ke rumah sakit biar ada perawatan lebih lanjut agar optimal, kita pikir biar dapat cairan dulu karena kekurangan cairan, lalu kita bikinlah surat rujukan," jelasnya.
Lalu, pihak keluarga menghubungi marketing rumah sakit tersebut dan diterima dengan baik, Ibu M menjelaskan kondisi suaminya dan mereka disuruh membawanya langsung ke IGD, "Sampai IGD jam 00.30," paparnya.
Namun, setelah sampai di IGD, suaminya diduga mengalami kelalaian medis. Tempat tidurnya ditinggikan meskipun ia mengeluh tidak bisa bernafas dan perutnya semakin sakit, karena tidak ada respon akhirnya anak Ibu M yang membenarkan posisi tempat tidurnya.
"Saya bilang suami saya kekurangan cairan minta tolong diinfus saja. Namun dokternya menjawab 'saya dokternya saya lebih tahu, enggak main infus infus aja'," cerita Ibu M.
Ibu M menceritakan, bahwa infus tetap tidak dipasang dan hanya dicolok saja. Pemasangan alat Elektrokardiogram (EKG) juga tidak benar dan lampu monitor EKG tidak hidup, sampai akhirnya anak dari Ibu M yang seorang mahasiswa bidang kesehatan lah yang membenarkan pemasangannya.
"Saya lihat makin lemas tapi infus tetap juga enggak dipasang. Habis dipasang oksigen terus di pasang sungkup, saya bilang ini pasang sungkupnya enggak benar, ini harus ketutup cara pegangnya bukan begini, saya bilang gimana sih? Bisa enggak sih? Jangan kayak gini," ujarnya.
Lanjut, Ibu M mengatakan setelah itu, kondisi suaminya semakin lemas dan tiba-tiba kejang. Ketika ditanya alat untuk menyangga mulut ternyata tidak ada dan akhirnya anak mereka yang memasukkan tangannya ke mulut suaminya untuk membukanya pelan-pelan.
"Ketika mau disuntik kan seharusnya dikasih injeksi diazepam ya, anak saya tanya 'mana diazepam nya? Diazepam pun kalian enggak tahu? Gimana sih petugasnya? Lalu gimana caranya nih? Bisa enggak sih?' Mereka lama nyarinya nggak lama setelah itu lewat (meninggal) suami saya," ungkapnya sedih.
Dikatakan juga, tindakan medis dilakukan dari jam 00.30 sampai 01.00 lewat sedikit. Setelah kejang suaminya hilang kesadaran dan kondisinya semakin memburuk, "Itu udah lemas lalu mereka lakukan CPR kurang lebih dari jam 1:00 lewat sampai jam 2:00," tukasnya.
Karena hal tersebut, Ibu M mempertanyakan apakah petugas medis yang merawat suaminya memiliki sertifikat yang memadai untuk ditempatkan di ruangan tersebut.
"Di surat kematian saja enggak ada diagnosanya. Saya sudah melapor sama kepala puskesmas katanya akan melapor sama Kepala Dinas Kesehatan, katanya dia (Kepala Dinas Kesehatan) yang akan menegur," pungkasnya
Ibu M sangat kecewa dengan perlakuan yang diterima oleh suaminya di rumah sakit. Ia berharap agar pihak berwenang dapat menindaklanjuti kasus ini agar tidak terjadi lagi di masa depan.
Sementara itu, kami mengkonfirmasi secara terpisah kepada pihak rumah sakit terkait keluhan keluarga pasien yang seyogyanya dari orang kesehatan sendiri, namun tidak bisa memberi jawaban.
“Setelah mendapatkan konfirmasi ini, saya tentu tidak bisa memberi jawaban apapun. Tapi konfirmasi dari rekan media ini akan disampaikan ke pihak manajemen rumah sakit,” jawab Humas rumah sakit tersebut, Jumat (31/3/2023).
Humas rumah sakit pun mengakui, bahwa sebelumnya pihak perwakilan rumah sakit telah datang ke rumah keluarga pasien di Jatirasa.
Mengacu pada keterangan Ibu M, kasus ini menunjukkan betapa pentingnya standar pelayanan medis yang baik dan profesionalisme petugas medis dalam menangani pasien.
Semoga keluarga Ibu M mendapatkan keadilan dan rumah sakit tersebut dapat memperbaiki sistem pelayanannya agar tidak ada lagi korban jiwa yang diduga akibat kelalaian medis.
(Pandu-Mitrapos)
ADVERTISEMENT