MITRAPOS | BEKASI - Banjir masih menjadi masalah yang harus dibenahi di Kota Bekasi. Sampai saat ini, masih banyak warga yang belum merasa tenang ketika musim penghujan tiba.
Walaupun tidak merata, namun tidak bisa dipungkiri sejumlah wilayah di Kota Bekasi masih merasakan banjir, meski pada akhir tahun 2022 dan awal tahun 2023 tidak ada banjir besar melanda.
Hal itu terlihat ketika Pemerintah Kota Bekasi menggelar Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) di sejumlah 56 kelurahan. Persoalan dan pengajuan masing masing RT RW masih sama dengan pengajuan tahun sebelumnya, yakni pekerjaan saluran drainase yang dikeluhkan sebagai penyebab banjir.
Namun terpisah dikatakan Anjar Budiono, selalu Kabid SDA Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi, bahwa semua kecamatan sudah dicanangkan pekerjaan drainase. Pihaknya telah melakukan upaya pekerjaan drainase pada tiap titik yang ditentukan.
Sedangkan untuk titik rawan banjir yang disoroti pemerintah, menurut Anjar, wilayah yang berdampingan atau pinggir kali Bekasi menjadi tempat rawan banjir selama ini. Terutama posisi daratan yang lebih rendah dibanding dengan kali, seperti PGP sekitar 1000 meter panjangnya perumahan, diikuti kali Bekasi.
"Paket 1 normalisasi kali bekasi sudah dijalankan dari titik PGP sampai bendung Bekasi jalan hasibuan. Pekerjaan itu terhambat dikarenakan butuhnya lahan untuk pelebaran kali yang membutuhkan biaya besar," jelas Anjar, Selasa (24/1/2023).
Selain itu, Anjar menambahkan, sempitnya kali di lokasi crossing tol tiap wilayah juga menyebabkan air kali meluap, dengan volume hujan tinggi dan lumpur yang tebal meski kerap dilakukan peraturan juga jadi persoalan.
"Solusinya harus melebarkan saluran di crossing tol. Untuk melebarkan itu kita sudah melakukan duplikasi crossing tol, dengan cara membuat saluran baru di sebelah saluran crossing tol. Pada 2017 crossing KM 1705 dekat tol timur, tahun 2019 KM 5800 Jaticempaka, dan pada tahun 2021 crossing tol BSK galaxy KM 12100," paparnya.
Namun diakuinya, hal itu masih kurang menampung aliran air. Dan menurutnya sudah seharusnya saluran di crossing tol dilebarkan. "Setiap bulan kita lakukan peraturan dengan ketebalan lumpur capai 1 sampai 2 meter," ujarnya.
Soal banjir, lanjut Anjar mengatakan, memang tidak mudah dihilangkan, namun dengan warga tidak membuang sampah sembarang, sudah suatu upaya mengurangi banjir di Kota Bekasi.
"Sampah juga masih jadi masalah, belum semua warga ada kesadaran. Meski sering diangkut sampah tidak ada habisnya," pungkas Anjar.
(Pandu-Mitrapos)
ADVERTISEMENT
